Selasa, 26 April 2011

‎~**KIAT MERAIH KEIKHLASAN (TARBIYAH QOLBU)**~
===================================================

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

~>>>Unsur terpenting dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Ikhlas,Yakni kemurnian dari ketaatan yang dilakukan hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan terlepas dari seluruh faktor selain-Nya. Sebagaimana dinyatakan,

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, yakni dalam Menjalankan agama, dengan lurus”.(Q.S. Al Bayyinah : 5)

Allah pun mengetahui segala sesuatu yang ada dalam isi hati setiap hamba.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ

“Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui”." (QS. Ali Imran: 29)

Diriwayatkan dari’Alqamah bin Waqqas Al Laitsi, dari Umar bin Al Khathab Radhiyallahu Anhu,dimana beliu berkata,

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya :

“Sesenguhguhnya sempurnanya amal-amal perbuatan hanya dengan niat-niatnya.Dan sesungguhnya bagi setiap orang terantung pada apa yang di niatkannya.Barangsiapa yan hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya,maka hijrahnya itu dinilai karena Allah dan Rasul-Nya.Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ia cari atau karena wanita yang dinikahinya,maka hijrahnya itu dinilai karena apa ia berhijrah kepadanya”.

Menurut Hudzaifah Al Mar’asyi”Bahwa ikhlas adalah adanya keseimbangan atas perbuatan seseorang pada lahir maupun batinnya.Al Imam Al Ustadz Abu Al Qashim Al Qusyairi bahwa “Ikhlas adalah memurnikan ketaatan kepada Al Haq Allah Subhanahu wa Ta’ala,dengan meyengaja melakukan suatu ibadah kepada-Nya,ketaatan ditunjukan untuk Ber-Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu amalan, di samping amalan tersebut harus sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tanpa ikhlas, amalan jadi sia-sia belaka. Ibnul Qayyim dalam Al Fawa-id memberikan nasehat yang sangat indah tentang ikhlas,
“Amalan yang dilakukan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bagaikan seorang musafir yang membawa bekal berisi pasir. Bekal tersebut hanya memberatkan, namun tidak membawa manfaat apa-apa.”

Karena ikhlas adalah merupakan syarat diterimanya ibadah,maka apapun yang dikerjakan hanya mengharap dan mendapatkan ke Ridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala,dengan niat baik yang terpelihara dalam hati.

Keikhlasan berarti memenuhi semua perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala,setiap perbuatan,langkah,kata-kata dan Doa hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mencari ridha-Nya. Untuk mendapatkan itu semua keikhlasan tidak datang dengan sendirinya,keikhlasan adalah suasana hati yang harus diusahakan setiap Muslim.

Tidak mudah memperoleh keikhlasan dalam diri seorang muslim.Diantara cara untuk mendapatkanya adalah dengan menumbuhkan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,dan dengan kecintaan yang mendalam, setelah memahami kebesaran-Nya.Bahwa tidak ada kekuatan lain selain Allah Subhanahu wa Ta’ala,bahwa hanya Allah yang menciptakan alam semesta dari ketiadaan dan yang memelihara makhluk hidup penuh dengan Rahman dan Rahim-Nya,oleh karena itu keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya pengakuan yang harus dicari.


Rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, muncul dari pemahaman dan penghargaan akan kebesaran dan kekuatan-Nya,seseorang yang memahami kebesaran kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kekuatan abadi-Nya,akan mengetahui bahwa ia bisa saja menghadapi murka dan hukuman-Nya, sebagai bagian dari keadilan Ilahi Rabb,jika ia tidak mampu mengarahkan hidupnya seseuai dengan keinginan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Disamping itu juga untuk memperoleh keikhlasan adalah dengan mengharapkan balasan hanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.Ibadah apapun bila dilakukan hanya untuk mencari ridha-Nya,pasti akan membuahkan balasan syurga.Seseorang harus berpikir yang membuat ikhlas dalam perbuatannya adalah melakukannya dengan murni dan tulus karena perintah Allah dan tujuan adalah mencapai keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Keikhlasan juga dapat diperoleh dengan cara menguatkan hati nurani.Kata hati adalah kekuatan yang dipercayakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia,untuk menunjukkan jalan yang benar,kata hati akan mengingatkan manusia akan syehtan yang ada dalam jiwa mereka dan segala macam sikap serta tingkah laku yang tidak sesuai dengan Al Qur’an.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya :

“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun ia mengemukakan alasan-alasannya”.(Q.S. Al Qiyaamah : 14-15)

Setiap manusia secara naluri mengetahui,bisikan yang terdengar adalah suara hati nuraninya dan alasan-alasan yang ia ajukan untuk mengabaikan suara tersebut,yang lebih penting adalah keikhlasan diharapkan dapat diperoleh dengan memahami,kehidupan dunia adalah sementara dan sangat singkat, sementara kehidupan di akhirat adalah kekal abadi.

Kedudukan Ikhlas adalah sebagaimana, Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda yang artinya, “Ikhlaslah dalam beragama, cukup bagimu amal yang sedikit.” Dalam hadist lain Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda yang artinya,”Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”


Ciri-Ciri Orang Ikhlas

1. Terjaga dari segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik sedang bersama dengan manusia atau sendiri. Disebutkan dalam hadits,
“ Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)

2. Senantiasa beramal di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang orang lain, baik ada pujian ataupun celaan.
Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu berkata,

“ Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”

3. Selalu menerima apa adanya yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

4. Mudah memaafkan kesalahan orang lain.


Pengelompokan Ikhlas

1.Iklhas Mubtadi

Yakni orang yang beramal karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, tetapi di dalam hatinya terbesit keinginan pada dunia. Ibadahnya dilakukan hanya untuk menghilangkan kesulitan dan kebingunan. Ia melaksanakan shalat tahajud dan bersedekah karena ingin usahanya berhasil. Ciri orang yang mubtadi’ bisa terlihat dari cara dia beribadah. Orang yang hanya beribadah ketika sedang butuh biasanya ia tidak akan istiqamah. Ia beribadah ketika ada kebutuhan. Jika kebutuhannya sudah terpenuhi, ibadahnyapun akan berhenti.

2. Ikhlas Abid

Yakni orang yang beramal karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hatinya bersih dari riya’ serta keinginan dunia. Ibadahnya dilakukan hanya karena Allah dan demi meraih kebahagiaan akhirat, menggapai syurga, takut neraka, dengan dibarengi keyakinan bahwa amal ini bisa menyelamatkan dirinya dari siksaan api neraka. Ibadah seorang abid ini cenderung berkesinambungan, tetapi ia tidak mengetahui mana yang harus dilakukan dengan segera (mudhayyaq) dan mana yang bisa diakhirkan (muwassa’), serta mana yang penting dan lebih penting. Ia menganggap semua ibadah itu adalah sama.

3. Ikhlas Muhibb

Yakni orang yang beribadah hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan ingin syurga atau takut neraka. Semuanya dilakukan karena bakti dan memenuhi perintah dan mengagungkan-Nya

4. Ikhlas Arif

Yaitu orang yang dalam ibadahnya memiliki perasaan bahwa ia digerakkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia merasa bahwa yang beribadah itu bukanlah dirinya. Ia hanya menyaksikan ia sedang digerakkan Allah karena memiliki keyakinan bahwa tidak memiliki daya dan upaya melaksanakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Semuanya berjalan atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Manfaat dan Keutamaan Ikhlas

1. Membuat hidup menjadi tenang dan tenteram
2. Amal ibadahnya akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Dibukanya pintu ampunan dan dihapuskannya dosa serta dijauhkan dari api neraka.
4. Diangkatnya derajat dan martabat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
5. Doa kita akan diijabah.
6. Dekat dengan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala
7. Mendapatkan perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
8. Akan mendapatkan naungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala .di hari kiamat.
9. Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan memberi hidayah (petunjuk) sehingga tidak tersesat ke jalan yang salah.
10. Allah akan membangunkan sebuah rumah untuk orang-orang yang ikhlas dalam membangun masjid
11. Mudah dalam memaafkan kesalahan orang lain
12. Dapat memiliki sifat zuhud (menerima dengan apa adanya yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala)


Sahabat-sahabat yang di rahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, demikian secara umum bhwa Ibadah apapun yang kita laksanakan senantiasa berusaha Ikhlas hanya mengharap Ridha-Nya.Muda-mudahan untaian dan paparan tersebut diatas manfaat buat kita semua, yang benar haq semua datang-Nya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,yang kurang dan khilaf mohon sangat dimaafkan ’’Akhirul qalam “Wa tawasau bi al-haq Watawa saubil shabr “.Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala . senantiasa menunjukkan kita pada sesuatu yang di ridhai dan di cintai-Nya..Aamiin Allahu ma’amiin. **(Dari Berbagai Sumber)**
Walhamdulillah Rabbil’alamin



Semoga Bermanfa'at,InsyaAllah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar